sosiologi munyuk (2)

February 3, 2007 – 12:20 am

Dengan mengemukakan bahwa sistem gilir diantara istri-istri atau suami-suami kera yang poligami dan poliandri,saya tidak sedang menganjurkan agar anda belajar bagaimana harmoni kumpul kera.

Kumpul kebo saja sudah bikin pusing. Apalagi ditambah kumpul kera. Lebih tak senonoh lagi kalau ada fenomena kumpul ayam, yang bisa making love di segala tempat. Kalu tidak salah manusia itu manusia itu makhluk yang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk banyak atau sedikit lebih beradab dibanding hewan. Kesempatan it boleh dpakai atau tidak,masing-masing pilihan mengandung resiko pahala dan dosanya sendiri-sendiri. Disamping membawa efek enak dan tidak enaknya sendiri-sendiri.

Manusia kenal matematika,kera tidak. Manusia menghitung satu-sepuluh-sejuta sampai tak terhingga. Jadi kalau mereka beristri empat akan disbutlah si Anu istri pertama,Ana istri kedua, Ani istri ketiga dan Ana istri keempat.

Sedangkan kera tak kenal hitungan. Semua istri atau suaminya adalah istri atau suami pertama.. jadi pertama,pertama dan pertama. Matematika kera bisa jadi merupakan ‘peradaban’ tersendiri. Boleh setuju atau tidak,tapi yang jelas,dalam dunia pergaulan antara kera jantan dan kera betina,berlangsung tradisi budaya yang lebih setia kepada fitrah sehingga tidak ada homoseksualitas,tak ada lesbi,dan tak ada kera kena AIDS.
    

Juga tak ada kera yang hanya karena cemburu,lantas menyusun scenario: mengutus kera tertentu untuk membunuh saingannya sesama gundik betina atau gundik jantan. Lantas menangkap seekor kera lain untuk dituduh sebagai pembunuhnya.

Dunia kera cukup bermoral dan beradab untuk tak usah bikin sistem pengadilan yang amat canggih mementaskan ketidakadilan.

Kalau sempat masih nyambung ke sosiologi munyuk(3)